Welcome

    Welcome
    Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.

    Peace will be open to you.

    In the name of Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Welcome to my personal website.

RevMan (Review Manager)

RevMan Web is the online platform recommended for Cochrane intervention and flexible reviews. Log in to RevMan Web to access your review.

RevMan 5 is available for download as locally installed software (current version: 5.4), released May 2020.

Please cite RevMan 5 whenever its output is used: Review Manager (RevMan) [Computer program]. Version 5.4, The Cochrane Collaboration, 2020.

RevMan Web is the online platform recommended for Cochrane intervention and flexible reviews.RevMan Web has been designed to integrate with other systematic review software and new features and updates are added regularly. If you are a Cochrane Author, you can sign up to edit your review in RevMan Web.

► RevMan 5 is the desktop version of the software used for other review formats (diagnostic, methodology, overviews), for non-Cochrane reviews, and for offline working. You can use RevMan 5 alongside RevMan Web if needed.

If you need to use RevMan 5, please ensure you are using RevMan 5.4, the latest version released in May 2020. Available for download below.

If Microsoft Defender Smartscreen warns you against running the software, please click on ‘More Info’ and ‘Run anyway’. 

  • Download 64 bit version – will only work on 64 bit Windows machines 
  • Download 32 bit version – will work on most Windows machines

Mac OS may request your approval before downloading the software. You may need to adjust your security settings to authorise the download. Download

https://training.cochrane.org/online-learning/core-software-cochrane-reviews/revman

30 ORANG PERTAMA DALAM ISLAM

Siapa Org pertama menemukan telepon ? Jawab nya :
Alexander Graham Bell …
Nah…kalau org pertama tulis bismillah siapa ?
??????????

Bingung kan?

Kasihan kalau anak- anak kita tanya kepada Ibu/Bapak…

bisa jawab enggak ?

simpan catatan ini ya.
Mari kita kenali Islam !
30 ORANG YANG PERTAMA DALAM ISLAM

  1. Orang yang pertama menulis
    Bismillah : Nabi Sulaiman AS.
  2. Orang yang pertama minum air zamzam :
    Nabi Ismail AS.
  3. Orang yang pertama berkhitan :
    Nabi Ibrahim AS
  4. Orang yang pertama diberikan pakaian pada hari qiamat :
    Nabi Ibrahim AS.
  5. Orang yang pertama dipanggil oleh Allah pada hari qiamat :
    Nabi Adam AS.
  6. Orang yang pertama mengerjakan sa’i antara Safa &Marwah :
    Sayyidatina Hajar
  7. Orang yang pertama dibangkitkan pada hari qiamat :
    Nabi Muhammad SAW.
  8. Orang yang pertama menjadi Khalifah Islam :
    Abu Bakar As Siddiq RA.
  9. Orang yang pertama menggunakan Kalender Hijriyyah :
    Umar bin Al-Khattab
  10. Orang yang pertama meletakkan Jabatan khalifah dalam Islam :
    Hasan bin Ali RA.
  11. Orang yang pertama menyusukan Nabi Muhammad SAW :
    Thuwaibah RA.
  12. Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan lelaki :
    Haris bin Abi Halah
  13. Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan wanita :
    Sumayyah binti Khabbat
  14. Orang yang pertama menulis hadis di dalam kitab / lembaran :
    Abdullah bin Amru bin Al-Ash
  15. Orang yang pertama memanah dalam perjuangan fisabilillah :
    Saad bin Abi Waqqas
  16. Orang yang pertama menjadi muazzin dan menyerukan adzan: Bilal bin Rabah
  17. Orang yang pertama sholat dengan Rasulullah SAW :
    Ali bin Abi Tholib
  18. Orang yang pertama membuat mimbar masjid Nabi SAW :
    Tamim Ad-dary
  19. Orang yang pertama menghunus pedang dalam perjuangan fisabilillah : Zubair bin Al- Awwam
  20. Orang yang pertama menulis sejarah Nabi Muhammad SAW :
    Ibban bin Othman bin Affan
  21. Orang yang pertama beriman dengan Nabi SAW :
    Khadijah bt Khuwailid.
  22. Orang yang pertama menggagas usul fiqh :
    Imam Syafi’i RH.
  23. Orang yang pertama membina penjara dalam Islam:
    Ali bin Abi Tholib
  24. Orang yang pertama menjadi raja dalam Islam :
    Muawiyah bin Abi Sufyan
  25. Orang yang pertama membuat perpustakaan umum:
    Harun Ar-Rasyid
  26. Orang yang pertama mengadakan baitulmal : Umar bin Khattab
  27. Orang yang pertama menghafal Al-Qur’an setelah Rasulullah SAW :
    Ali bin Abi Tholib
  28. Orang yang pertama membangun menara di Masjidil Haram Mekah:
    Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur
  29. Orang yang pertama digelar Al-Muqry :
    Mus’ab bin Umair
  30. Orang yang pertama masuk ke dalam syurga :
    Nabi Muhammad SAW.

Pesan moral

Rugilah klo tidak SHARE sebab ini 1 peluang dakwah yg MUDAH.

Alhamdullilah sudah share❤❤

IMAN, IMUN, AMAN

Alfian Nur Rosyid

Dokter Paru FK UNAIR, Satgas Corona RS UNAIR, Humas PDPI

Pandemi COVID-19 diumumkan sebulan setelah kasus pertama di Wuhan. Lebih dari 25 negara terjangkiti virus SARS-CoV2, tak terkecuali Indonesia. Awal Maret, kasus pertama di Jakarta. Kini, hampir semua provinsi ada pasien positif. Transmisi lokal terjadi dimana-mana, bukan kasus impor lagi.

IMAN

Indonesia bangsa besar, menganut sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa. Meyakini atas kehendak-Nya virus ini hadir di dunia dengan karakterisitik tertentu. Tanpa mengesampingkan analisis adanya pihak yang memutasikan virus tersebut.

Virus berkembang bila hinggap di inang (host) seperti babi, kelelawar dan manusia. Tanpa ijin-Nya, virus ini tak bisa “hidup”, berdaya transmisi dan menyebabkan sakit. Demam tanda alarm awal yang diciptakan Tuhan sebagai warning. Ada sirine dibunyikan tubuh tanda hadirnya penyusup. Reflek bersin dan batuk guna mengeluarkan virus. Sistem pertahanan tubuh yang diciptakan-Nya bekerja sempurna, berjalan otomatis tanpa instruksi manusia.

Pakai masker, jaga jarak, isolasi diri di rumah, hindari kerumuman massa, tinggalkan mudik dan lakukan perilaku hidup bersih dan sehat merupakan upaya pencegahan tertular dan menulari. Pelanggaran hal itu merupakan penafian keimanan. Keimanan dalam upaya mencegah sebelum sakit, sembari terus berpasrah kepada-Nya. Menyadari wabah ini ujian keimanan dalam memilih tetap bersabar di rumah atau keluar bekerja dan beribadah dalam kerumunan tanpa usaha preventif.

Dia yang mengijinkan virus ini dapat menjadi senjata biologis dan Dia pula yang telah melengkapi manusia dengan senjata kekebalan. Kekebalan itu ada sejak manusia terlahir. Itulah sistem imun.

IMUN

Virus kecil tak kasat mata mudah dikeluarkan dari si terjangkit kepada orang lain. Sekali virus menembus pertahanan fisik tanpa masker, serta tidak terbuang dengan bersin atau batuk. Maka, virus akan berhadapan dengan sistem imun. High immunity akan me-lockdown virus dan sebaliknya virus akan men-smackdown kekebalan orang lemah.

Pendekatan diri pada-Nya meningkatkan imunitas. Dia-lah pencipta imunitas dalam melawan berbagai virus. Kepatuhan segala rule-Nya, menyebabkan sistem imun terjaga sempurna. Istirahat cukup 7-9 jam perhari dan tidak stres serta panik menjadi kunci peningkatan imunitas. “Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan” kata Avicenna, sang Bapak kedokteran Modern. Pola makan bergizi, sehat dan halal menghasilkan asam amino pembentuk sistem imun. Regenerasi sel imun harus diupayakan guna meng-upgrade senjata-Nya.

Dari 8o persen, orang yang terinfeksi memiliki imunitas kuat, virus dapat dilemahkan dengan mudah. Hanya gejala ringan bahkan tanpa gejala (carier). Mereka cukup isolasi diri di rumah. Terus berupaya meningkatkan kekebalan tubuh. Virus ini ganas pada pasien rentan dengan imunitas lemah (bayi, lanjut usia,atau penyakit kronis lain). Virus menggulingkan pasien dengan imunitas lemah sehingga mereka memberat dan harus rawat inap (15%). Sisanya 5% gagal napas dan butuh mesin bantuan napas.

Dia yang mengijinkan seseorang menjadi sakit, Dia pula yang menyembuhkan. Banyak kabar baik dan sugesti positif beredar dari para pasien positif, baik yang dirawat inap maupun yang rawat isolasi mandiri di rumah. Dengan menguatkan imunitas, mereka dapat sembuh dan berkumpul lagi bersama keluarga dengan aman.

AMAN

Presiden RI, Joko Widodo, 15 Maret, menghimbau agar warga tenang, tidak panik, melakukan karantina mandiri, jaga jarak dan pakai masker. Himbauan tanpa sangsi ibarat nasihat masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Tak ayal, banyak yang tak patuh. Moda transportasi masih ber-seliweran, pasar, mall, tempat ibadah masih dijejali manusia.

Strategi jitu, masal dan merata harus dipilih demi keselamatan bangsa ini. Penularan virus yang cepat dan masif harus dilawan dengan pencegahan penularan yang super ketat. Intinya adalah karantina virus pada individu yang kuat yang terlanjur terjangkiti sampai virus ini dikalahkan imunitas. Jangan sampai virus itu berpindah kepada orang lain. Karantina harus dilakukan marathon bukan sprint. Harus tegas, dikawal dengan pinalti. Marathon artinya bersama-sama, bila hanya perorang, perwilayah, perprovinsi maka transmisi tetap akan terjadi. Virus akan sprint berpindah kepada orang di wilayah lain. Kecukupan sembako yang bergizi juga harus disiapkan.

Penyemprotan dan chamber bukan solusi aman. WHO menyatakan bahaya bagi manusia. Masyarakat mengasumsi penyemprotan akan membunuh virus dan mereka tetap bebas berkeliaran tanpa jaga jarak, pakai masker dan rajin cuci tangan.

Swab masal dan rapid bagi semua penduduk bukan solusi jitu. Pemeriksaan ini layaknya hanya bagi si sakit berat untuk memastikan penyebab sakit. Bukan semua orang. Muncul stigma negatif di masyarakat bagi pasien positif. Pengucilan keluarga si sakit acapkali terjadi. Budaya tepo seliro dan saling membantu seakan sirna. Perlunya dukungan masyarakat penyangga bagi mereka yang sedang berduka.

Penjemputan pasien positif dengan ambulan lengkap petugas berbaju “astronot” adalah protokol standar. Harus dipahami, fasilitas itu hanya untuk pasien positif yang sakit berat dan butuh rawat inap atau tak mampu mengisolasi mandiri di rumah. ODP, PDP atau positif COVID-19 dengan kondisi baik dan bisa isolasi mandiri di rumah, maka mereka tidak perlu rawat inap di rumah sakit atau wisma khusus. Cukup isolasi ketat di kamar atau rumah mereka sembari meningkatkan kekebalan. Bagi yang memberat, rumah sakit disediakan bagi mereka.

Hilir dari penangananan wabah ini adalah penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai agar terjadi penurunan kasus kematian. Dengan menekan penularan maka kasus menurun dan kebutuhan perawatan di rumah sakit juga turun. Tenaga kesehatan terhindar dari exhausted dan demotivasi. Pelayanan pasien lebih optimal. Outcome jadi lebih baik.

Semua harus bersatu, bergerak bersama. Fokus pada lokus masing-masing dalam kontribusi penanganan wabah ini. Dengan terus berdoa agar semua upaya diridhoi-Nya. Semoga warga sehat dan aman. Amin.

Para Carier COVID-19

Alfian Nur Rosyid

Dokter Paru FK UNAIR, Satgas Corona RS UNAIR, Humas PDPI

Pandemi COVID-19 diumumkan 1 bulan setelah ditemukan virus baru 2019-nCoV. Lebih dari 25 negara terjangkiti. Penyebaran virus sangat cepat, melalui transmisi droplet, kontak dan airborne (perdebatan). Virus berpindah dari saluran napas seseorang yang positif kepada orang lain yang tak bermasker dalam jarak kurang dari 1 meter.

Tersebutlah seorang lelaki muda, hampir kepala lima. Dia datang ke IGD sebuah rumah sakit dalam kondisi batuk dan sesak sejak 4 hari. Lelaki itu cukup gemuk untuk dibopong oleh kedua temannya. Karena sesak berat, lelaki tersebut harus masuk ICU dan dipasang mesin bantu napas malam itu juga. Sebelum berangkat, sang lelaki berpamitan kepada ayahanda dan istri serta anak tercintanya.

Dokter menyatakan bahwa lelaki tersebut pneumonia, hasil rapid tes COVID-19 negatif. Swab dilakukan dua hari kemudian. Tim dokter terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Perawat selalu menggunakan masker bedah saat merawat pasien. Kebetulan salah seorang tim, mungkin lupa, tidak menggunakan masker. Tiga hari kemudian, hasil swab PCR didapatkan hasil positif corona. Menjadi heboh seluruh rumah sakit termasuk keluarga dan tetangga rumah pasien.

Seorang yang lupa tak bermasker ternyata baik-baik saja. Dia diistirahatkan setelah hasil swab pasien lelaki itu positif. Hasil tes rapid tenaga yang teledor tersebut negatif lalu dilanjutkan swab. Dia tak diijinkan pulang selama menunggu hasil swab. Esoknya, beberapa perawat dan dokter mengalami keluhan batuk kering dan beberapa gatal tenggorokan dan demam. Semua tenaga kesehatan bergejala diistirahatkan di rumah sakit. Mereka tak diijinkan pulang dan dilakukan pemeriksaan standar.

Kondisi lelaki malang tersebut makin memburuk. Keluarga sang lelaki diperiksa swab. Alhasil istri, anak dan ayah positif. Paman dan kakek yang juga tinggal serumah negatif. Alhamdulillah, kondisi istri dan anak baik tanpa keluhan. Hanya ayah saja yang masih merokok, sering batuk seperti biasanya.

Sebelum diketahui positif, istri lelaki itu masih berjualan di pasar. Ayah pasien masih rajin ke masjid. Ayah juga sempat pergi ke rumah adeknya di luar kota, meskipun telah dilarang sang kakek. Si anak masih sempat bermain di lapangan bersama beberapa temannya karena bosan libur sekolah.

Dua hari sebelum masuk IGD rumah sakit, ternyata lelaki tersebut sempat berobat ke dokter praktek diantar oleh ojek. Sang dokter mendiagnosis pasien radang tenggorokan dan diberikan obat. Tukang ojek adalah sahabat sang lelaki, menunggu dan mengantarkan sampai pulang ke rumah. Karena sore saat dalam perjalanan menuju klinik turun hujan lebat, maka terpaksa keduanya mampir ke warung kopi. Disana mereka bertemu dengan beberapa pedagang, tukang becak, pengamen dan loper koran yang juga berteduh. Sang lelaki bercerita bahwa tiga hari yang lalu, dia bertemu dengan beberapa rekanannya dari berbagai kota saat pelatihan di Jakarta. Temannya di ibukota sehat. Hanya saja, bule yang mereka temui sakit dan mendadak meninggal. Di warung yang sempit itu, sekitar 8 orang menyeruput kopi, ditambah suami istri pemilik warkop.

Setelah warga mengetahui bahwa lelaki tersebut sakit Corona, maka mereka melarang sang Ayah ke masjid, sang Istri jualan di pasar. Anak-anak kampung dikurung di rumah masing-masing tidak boleh bermain dengan anak lelaki itu. Beberapa anak mengeluh batuk ringan. Sang Ayah makin berat batuknya dan harus dibawa ke Rumah Sakit. Disusul oleh sahabat karibnya yang sering ngobrol di depan rumah. Jalan kampung pun ditutup untuk tamu.

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Tuhan telah berkehendak. Sang lelaki menghadap-Nya. Sang Ayah dalam kondisi tua mendadak tak sadarkan diri. Dia juga harus berhadapan dengan maut. Disisi lain, sedang dirawat seorang wanita muda dengan lupus. Wanita itu adalah istri loper koran. Swab keduanya diketahui positif setelah beberapa hari dirawat di ruang isolasi khusus.

Ternyata bukan hanya ayah almarhum sang lelaki dan istri loper koran saja di IGD rumah sakit tersebut. Masih ada beberapa orang yang juga dirawat disana. Kamar penuh dan terus menolak rujukan pasien lain yang juga batuk dan sesak. Kamar isolasi rumah sakit rujukan seluruh kota penuh. Tak satupun yang bisa dipulangkan. Beberapa terpaksa pulang ke haribaan Tuhan dan digantikan pasien lain yang juga sesak berat. Banyak pasien harus menunggu di IGD seluruh rumah sakit karena ketiadaan kamar.

Ilustrasi diatas adalah sekelumit kisah yang terjadi di masyarakat. Transmisi lokal telah terjadi dimana-mana. Tulisan ini bukan untuk membuat takut. Hendaknya kita terus waspada dan segera mengambil keputusan bijak. OTG (Orang tanpa Gejala) bisa jadi mereka orang sehat pembawa virus corona. Itulah carier. Mereka sehat karena imunitas kuat. Merekalah para carier yang terus berkeliaran di jalan dan keramaian. Virus menumpang pada para carier tanpa menimbulkan gejala apapun. Virus dengan mudah berpindah kepada orang lain tanpa pelindung masker. Hal itu membuat para carier tak menyadari bahwa mereka ditunggangi virus. Keterbatasan swab menjadikan mereka tak terdeteksi membawa virus.

Betapa banyak carier dalam kisah diatas. Virus melompat kepada carier lainnya, sampai mereka menemukan orang yang lemah. Virus akan menumbangkan mereka yang tua dan disertai penyakit lain. Virus akan mengantarkan para pasien mengunjungi rumah sakit. Sebanyak apapun rumah sakit disediakan, virus akan terus mengirim pasien ke fasilitas kesehatan. Tenaga kesehatan dan APD tak cukup dibanding rasio mereka yang sakit.

Pencegahan di hulu harus dilakukan sebelum di hilir tak sanggup menangani. Kematian akan makin banyak. Pandemi ini belum mencapai puncaknya. Berhenti dan diam di rumah akan mengkarantina virus hanya pada orang yang terlanjur terjangkiti. Kuatkan imunitas mereka, berilah mereka istirahat cukup, tidak stres, makan bergizi dan halal serta terus berdoa. Jangan biarkan virus ini pindah ke orang lain. Biarlah corona mati pada orang-orang yang kuat. Fasilitas kesehatan harus diperkuat untuk mereka yang lemah. Sekali lagi mari berhenti bersama, jadilah garda terdepan. Corona akan segera berakhir. Amin.