Welcome

    Welcome
    Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.

    Peace will be open to you.

    In the name of Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Welcome to my personal website.

Domiciliary High-Flow Nasal Cannula O2 Therapy for Stable Hypercapnic COPD

ABSTRACT pdf

Rationale: A growing evidence base suggests a benefit of using high-flow nasal cannula oxygen therapy in the acute setting. However, the clinical benefit of domiciliary use of high-flow nasal cannula oxygen therapy in patients with chronic hypercapnic respiratory failure due to chronic obstructive pulmonary disease remains unclear.

Objectives: To evaluate the efficacy and safety of high-flow nasal cannula oxygen therapy use in patients with stable chronic obstructive pulmonary disease.

Methods: We conducted a multicenter, randomized crossover trial comparing high-flow nasal cannula oxygen therapy plus long-term oxygen therapy with long-term oxygen therapy only in 32 adults with stable hypercapnic chronic obstructive pulmonary disease. Participants were randomized to receive either 6 weeks of high-flow nasal cannula oxygen therapy/long-term oxygen therapy using the myAIRVO 2 device followed by another 6 weeks of long-term oxygen therapy only or long-term oxygen therapy only followed by high-flow nasal cannula oxygen therapy/long-term oxygen therapy. The primary outcome was the change in quality of life as assessed by St. George’s Respiratory Questionnaire for chronic obstructive pulmonary disease. A linear mixed-effects model was used to account for treatment effect, time effect, allocation effect, and participant effect.

Results: Of 32 study participants, 29 completed the study. At the end of 12 weeks, high-flow nasal cannula oxygen therapy/long-term oxygen therapy treatment improved the mean total St. George’s Respiratory Questionnaire for chronic obstructive pulmonary disease score compared with long-term oxygen therapy only (7.8 points; 95% confidence interval, 3.7 to 11.9; P < 0.01). Similarly, high-flow nasal cannula oxygen therapy/long-term oxygen therapy treatment improved the arterial partial pressure of carbon dioxide (adjusted treatment effect, −4.1 mm Hg; 95% confidence interval, −6.5 to −1.7 mm Hg), pH (adjusted treatment effect, +0.02; 95% confidence interval, 0.01 to 0.02), and median nocturnal transcutaneous carbon dioxide pressure (adjusted treatment effect, −5.1 mm Hg; 95% confidence interval, −8.4 to −1.8 mm Hg). High-flow nasal cannula oxygen therapy/long-term oxygen therapy treatment did not improve the arterial partial pressure of oxygen, dyspnea, spirometry, lung volume, 6-minute walk test, or physical activity. The most frequent high-flow nasal cannula oxygen therapy-related adverse event encountered was nocturnal sweating (n = 6 [20.7%]). Four severe adverse events occurred (two in each group) and were deemed unrelated to the intervention.

Conclusions: Six weeks of treatment with high-flow nasal cannula oxygen therapy improved health-related quality of life and reduced hypercapnia in patients with stable hypercapnic chronic obstructive pulmonary disease.

Clinical trial registered with www.clinicaltrials.gov (NCT02545855) and www.umin/ac.jp (UMIN000017639).

OSA Sleep Apnea

Press Release Perhimpunan Dokter Paru Indonesia
Terkait World Sleep Day, 16 Maret 2018

Tidur merupakan suatu mekanisme kompleks yang dikelola oleh otak dan saraf melalui neurotransmitter . Tidur sangat diperlukan oleh semua orang untuk menyegarkan kembali pikiran dan tubuhnya . Sebuah kualitas tidur yang baik tidak hanya bergantung pada jumlah jam tidur saja namun juga penting pada pola tidur seseorang. Jumlah jam tidur yang optimal untuk orang dewasa sehat adalah 8 jam perhari, namun ada beberapa orang yang membutuhkan jam tidur kurang atau lebih dari itu. Tidur yang berkualitas sangat penting bagi seluruh sistem dalam tubuh manusia seperti sistem saraf pusat, sistem pernapasan, sistem kardiovaskular, sistem pencernaan, sistem ekskresi, sistem genitourinaria, sistem endokrin dan sistem muskuloskeletal. Ketika seseorang tidur akan terjadi proses restorasi, regulasi suhu tubuh, peningkatan pertahanan tubuh (sistem imunitas), pengumpulan energi, plastisitas neuron dan pengeluaran sejumlah hormon seperti hormon pertumbuhan, melatonin, norepinefrin dan serotonin.

Namun sayangnya, terdapat banyak bentuk gangguan saat tidur terkait pernapasan. Mendengkur merupakan salah satu bentuk gangguan tidur terkait pernapasan yang paling sering terjadi. Di kalangan masyarakat luas, mendengkur sering dianggap sebagai suatu tanda tidur nyenyak karena terlalu lelah beraktivitas, namun sebenarnya mendengkur adalah suatu gangguan penyempitan saluran napas saat tidur. Penyempitan ini menyebabkan aliran udara yang masuk dalam saluran penapasan menjadi berkurang sehingga suplai oksigen ke seluruh jaringan tubuh juga menjadi berkurang. Mendengkur merupakan mekanisme awal terjadinya Obstructive Sleep Apnea (OSA).

Obstructive Sleep Apnea merupakan kejadian berhentinya napas lebih dari 10 detik yang terjadi secara berulang sepanjang seseorang tidur . Hal ini sangat membahayakan karena OSA dapat mengakibatkan kematian mendadak saat tidur. Kondisi OSA dapat terjadi pada semua usia tergantung dari penyebabnya. Laki-laki usia menengah dikatakan paling banyak mengidap OSA. Sedangkan faktor terjadinya OSA pada anak disebabkan oleh pembesaran tonsil dan/atau adenoid yang menghalangi masuknya udara dalam jalannya napas. Kelainan bawaan sejak lahir seperti rahang bawah yang mengecil, anak tekak lidah yang terlalu panjang, bentuk lidah yang besar dan lebar juga menjadi faktor OSA pada usia muda. Pada umumnya, faktor penyebab OSA adalah kegemukan/obesitas. Selain itu, bentuk leher yang besar dan wanita menopause menjadi faktor resiko OSA.

Gangguan tidur akibat OSA pada awalnya dapat menyebabkan rasa kantuk yang luar biasa, letih, lesu, produktivitas menurun, konsentrasi terganggu, sakit kepala saat pagi hari, gelisah, tekanan darah tinggi sampai impotensi. Sudah banyak dibuktikan melalui penelitian di seluruh dunia bahwa OSA menjadi salah satu faktor resiko paling tinggi terhadap penyakit lainnya yang harus bisa dikenali sejak awal. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh OSA diantaranya, hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke, diabetes melitus, dislipidemia, dan kecelakaan lalu lintas. Pengenalan dini melalui kuesioner sebagai metode penapisan, sangat diperlukan bagi orang yang berresiko tinggi.

Untuk mengetahui kualitas tidur seseorang diperlukan sebuah alat yang mampu mengukurnya. Alat tersebut bernama polisomnografi. Polisomnografi terdiri dari beberapa variabel pengukur seperti perekam otak (Electroencephalografi), perekam jantung (electrocardiography), pengukur gerakan bola mata (Electrooculografi), pengukur aktivitas otot (electromyography)dll. Kegiatan fisiologis tidur seseorang dapat direkam dan dianalisis dalam bentuk nilai menggunakan alat ini. Pemeriksaan polisomnografi yang ideal harus dilakukan di laboratorium tidur sehingga dapat dimonitor penuh oleh petugas. Perekaman fisiologis tidur dilakukan sepanjang tidur dan dianalisis keesokan harinya. Durasi tidur minimal yang dianjurkan untuk dapat mengukur kualitas tidur melalui polisomnografi adalah 6 jam.

Berbagai penelitian sudah dilakukan untuk melihat implikasi OSA terhadap kesehatan tidur masyarakat di Indonesia, diantaranya penelitian mengenai hubungan OSA dengan kecelakaan lalu lintas pada pengendara taksi, penelitian tentang hubungan OSA dengan obesitas, penelitian tentang bagaimana peran OSA menyebabkan terjadinya kalsifikasi koroner, kajian terhadap Low Density Lipoprotein, Lipoprotein Phospholipase A2 pada pengidap OSA dan kontribusi Index desaturase oksigen terhadap timbulnya penyakit jantung koroner. Tentu saja, masih banyak penelitian lain yang sudah dilakukan terkait gangguan ini.

Dalam rangka memperingati World Sleep Day tanggal 16 Maret 2018, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kualitas tidur yang baik dan bersih serta mengenali secara dini gangguan tidur yang terjadi. Berbagai edukasi dalam bentuk seminar, tulisan di media, diseminasi informasi melalui penyuluhan dan penelitian, pelatihan bagi tenaga dokter terus digalakkan sebagai bentuk kepedulian Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia juga mendorong agar setiap sarana kesehatan yang mumpuni untuk menyediakan klinik dan laboratorium tidur untuk dapat dipakai sebagai sarana pemeriksaan polisomnografi yang lebih ideal. Upaya terobosan preventif lain yang sedang dirintis PDPI adalah dengan melakukan pendekatan kepada JKN agar pemeriksaan tes tidur dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat secara gratis sehingga diharapkan dampak gangguan tidur bisa dicegah sedini mungkin.

Jakarta, 15 Maret 2018
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia

Call for Abstract

Call for Abstract

ASIA PACIFIC CONFERENCE
On Problem Based Learning in Health Science and Higher Education

Aug 3-5, 2018 Faculty of Medicine Universitas Airlangga*

Open Submission:
March 1st – April 14th 2018

Submit your Extended Abstract now!

s.id/1kxK

the manuscript will be proposed for proceeding with scopus indexed

Categories:
1.Learning & Teaching Process
2.Curriculum Development
3.Learning Media
4.Assessment
5.Others

Submit now!
– Original Research
– Review Article
– Case Report

*location: s.id/1kxL

  • Time

  • Newest Post

  • Archives

  • Categories

  • Comments

    • Upcoming Events

      1. Respina 2018

        July 17 - July 21
      2. APACT 12th 2018

        September 13 - September 15
      3. ERS 2018

        September 15 - September 19
      4. APSR 2018

        November 29 - December 2